Kamis, 13 Februari 2014

“Henry Laurence Gantt”




Sebagai  pendahuluan,  Teknik  industri  adalah  cabang  dari  ilmu teknik yang berkenaan dengan pengembangan, perbaikan, implementasi, dan  evaluasi  sistem  integral  dari  manusia,  pengetahuan,  peralatan, energi, materi, dan proses.
Henry Lawrence Gantt lahir dari keluarga Maryland yang makmur 20  Mei  1861,  selama “The  American  Civil  War”.  Meskipun  Marylan didaerah utara, kebanyakan orang begitu simpati dengan persekutuan, termasuk orang tua Gantt yaitu Virgil dan Mary. Ayah Gantt adalah orang
yang  sukses  di  perkebunan,  tapi  ketika  Presiden  Lincoln memproklamirkan  emansipasi  pada  September  1862,  69  budaknya ditinggalkan. Akhirnya Virgil Gantt secara keuangan bangkrut dan keluarganya memaksa untuk meninggalkan perkebunan dan pindah ke Baltimore untuk mencari kehidupan baru. Dari posisi yang nyaman, aman, dan makmur Gantt kembali pada situasi yang benar-benar nyata. Virgil Gantt berhutan cukup besar, sehingga tidak dapat cukup memberikan kontribusi kepada kebutuhan keluarga, jadi Mary Gantt yang mencari nafkah, yaitu membuka rumah idekos anak perempuan terbesarnya, Margaret dapat membantu keluarga dengan bekerja sebagai guru sekolah. Akibat dari perubahan yang drastis pada keluarga ini, menyebabkan Henry Gantt meninggalkan rumah ketika dia berumur 12 tahun untuk masuk sekolah McDonagh (lulus 1878), yang baru-baru ini dibangun dekat Baltimore seperti sekolah gratis untuk anak laki-laki petani yang miskin. Disiplin dan pelatihan yang keras, pekerjaan  yang  tidak  henti-hentinya  membuat  Gantt  berpikir  untuk meninggalkan  harapannya.  Gantt  mengalami  kemajuan  yang  besar  di
sekolah  dan  memenangkan  beasiswa  ke  universitas  Johns  Hopkins, walaupun dia melanjutkan kehidupannya di sekolah dan pulang pergi ke universitas setiap hari. Setelah lulus dari Johns Hopkins pada tahun 1880, dia menghabiskan waktunya selama tiga tahun untuk mengajar ilmu alam dan fisika di McDonagh sebelum mulai lagi sekolahnya, yang pada saat ini berada di Stevens Institute of Technology. Gantt pergi kesana pada tahun 1883 (tahun dimana F.W. Taylor memperoleh gelar Master dari Stevens
Institute)  dan  lulus  sebagai  insinyur  mesin  pada  tahun  1884.  Setelah meninggalkan  Stevens  Institute  Gantt  kembali  ke  Baltimore, menghabiskan  waktu  selama  dua  tahun  sebagai  Draftman  di  Poole  and
Hunt, sebuah perusahaan besi and masinis. Pada tahun 1886 dia kembali ke McDonagh, pada saat ini sebagai instruktur pada pelatihan manual, sebelum bergabung ke Midvale Steel pada tahun 1887.
Pada  saat  itu  Gantt  tiba  di  Midvale  Steel  sebagai  asisten  di departemen teknik mesin, F.W.Taylor sebagai kepala masinis di pabrik tersebut.  Pada  tahun  1888  Gantt  dipilih  untuk  menjadi  anggota  dari
American  Society  of  Mechanical  Engineers  dan  juga  menjadi  asisten Taylor.
Teori  Manajemen  Ilmiah  menerangkan  secara  ilmiah  metode terbaik untuk melaksanakan tugas apapun, dan untuk menyeleksi, melatih dan  memotivasi  pekerja.  Tujuannya  adalah  kebutuhan  untuk meningkatkan produktivitas.
Henry Gantt adalah seorang rekan (asisten) Taylor, Henry Gantt mengemukakan empat gagasan peningkatan manajemen sebagai berikut:
  1. Kerjasama  yang  saling  menguntungkan  antara  tenaga  kerja  dan manajemen,
  2. Seleksi ilmiah tenaga kerja,
  3. Memberikan  motivasi  kepada  karyawan  yang  mampu menyelesaikan  tugas  yang  dibebankan  melalui  sistem  insentif (bonus) untuk merangsang produktivitas karyawan dan organisasi,
  4. Penggunaan instruksi-instruksi kerja yang terperinci serta mencatat kemajuan pekerja dan dilakukan secara terbuka dan dicatat pada bagan balok individual (bagan Gantt) dengan warna hitam untuk pekerja yang mencapai standar, dan warna merah untuk pekerja yang gagal.
Teori  manajemen  Produksi  Henry  Gantt  menghasilkan  banyak
temuan, yang antara lain :
  1. Tabel Gantt (Gantt Chart)
Hingga  kini  karya  ini  masih  dianggap  relevan  untuk  digunakan sebagai alat manajeman. Dia membut sebuah grafik penjadwalan sebagai alat  untuk  aplikasi  perencanaan  dan  pengawasan  sekaligus  merekam keseluruhan  perjalanan  proyek.  Dalam  bahasa  modern-nya  tabel  ini dinamai PERT (Program Evaluation and Review). Bagan Gantt ini pada awalnya  ia  gunakan  untuk  mengatur  pelaksanaan  manajemen pelaksanaan  proyek  insfrastruktur  yang  antara  lain  pembangunan Bendungan  Hoover  dan  jalan  lintas  negara  bagian,  yang  kemudian temuannya ini menjadi alat penting untuk pelaksanaan manajemen proyek
selanjutnya.
Bagan Gantt merupakan metode yang paling terkenal dalam proses perencanaan dan pengawasan yang berhubungan dengan waktu. Bagan ini dikembangkan oleh Henry L. Gantt dalam waktu 1900-an. Bagan yang relatif sederhana ini telah memberikan sumbangan yang cukup besar bagi
semua  bentuk  manajemen  operasi,  dan  masih  cukup  bernilai  serta digunakan  meluas  sebagai  teknik  pengawasan  terutama  dalam perubahan-perubahan  dengan  banyak  proyek-proyek  yang  saling berhubungan.
Bagan  Gantt  dapat  didefinisikan  sebagai  suatu  bagan  yang mempunyai keluaran di satu sumbu dan satuan waktu di sumbu yang lain serta menunjukkan kegiatan yang direncanakan dan kegiatan yang telah
diselesaikan  dalam  hubungan  antar  setiap  kegiatan  dan  dalam hubungannya dengan waktu, atau dengan kata lain merupakan sebuah grafik  batang  yang  mengukur  pekerjaan  yang  direncanakan  dan diselesaikan di setiap tingkat produksi menurut waktu yang diperlukan. Banyak bagan Gantt nyata menggunakan garis dari plastik yang mudah  dipindah-pindah,  dengan  perbedaan  warna  untuk  menunjukkan program  yang  dijadwalkan.  Bagian  mekanik  dapat  menggunakan  kartu. Dari bagan tersebut, manajer dapat melihat apakah suatu proyek sedang dikerjakan, telah selesai, atau belum dikerjakan. Gantt  memberikan  contoh  dalam  pelaksanaan  pekerjaan  yang membutuhkan beberapa hari untuk diselesaikan. Pada bagan ditunjukkan dua lajur, yang satu menunjukkan hari dan yang lain menunjukkan bagianbagian  pekerjaan yang harus  dilakukan.  Dicantumkan pula dalam bagan tersebut jumlah pekerjaan yang diharapkan selesai berdasarkan waktu dan kenyataan pelaksanaannya. Laporan perkembangan kerja harian ini kemudian  di  total  secara  keseluruhan.  Ada  petunjuk  dari  bagan  tentang kapan  hari  suatu  pekerjaan  dimulai  dan  kapan  seharusnya  selesai. Keseluruhan metode ini dinamai Metode Perekaman dan Penjadwalan Kerja. Dalam tulisannya pada tahun 1903, Gantt juga menemukan sebuah metode yang dinamai production cards, kartu-kartu kerja yang diisi oleh operator tentang berapa pekerjaan yang dapat dilakukan setiap harinya. Di tahun 1916 bukunya yang berjudul "Work, Wages, and Profits" ia menjabarkan secara jelas tentang pelaksanaan penjadwalan kerja di atas.
Tetapi di bagian yang lain ia juga menjelaskan bahwa tabel di atas tidak akan  mampu  menyelesaikan  masalah  dengan  baik  jika  manajer  tidak mampu  membacanya  dengan  baik,  atau  tidak  peduli  pada  data  yang diteliti.  Pada  1919,  bukunya  yang  berjudul  "Organizing  for  Work"  ia menyampaikan  dua  prinsip  penting  mengenai  tabel  tersebut.  Yang pertama, mengukur jumlah aktivitas yang ada berbanding dengan jumlah waktu  yang  dibutuhkan.  Kedua,  pada  akhirnya  data  tersebut  dapat mewakili berapa jumlah ideal kerja yang mempu dilakukan dalam satu satuan waktu.

             2.   Industrial Efficiency

Efisiensi  industri  hanya  bisa  terlaksana  jika  ada  analisa  ilmiah menyeluruh  pada  keseluruhan  aspek  yang  ada  dalam  suatu  pekerjaan. Tujuan  adanya  Manajemen  Industri  yang  utama  adalah  melakukan
peningkatan  sistem untuk menghindari  hal-hal  yang  tidak  diinginkan  dan kecelakaan kerja.

            3.    The Task and Bonus System

Ia  merancang  adanya  bonus  tambahan  bagi  manajer  yang tergantung  pada  bagaimana  manajer  itu  menyikapi  karyawan  dan meningkatkan kinerja mereka.

            4.    The Social Responbility of Business

Ia percaya bahwa sebuah perusahaan memiliki tanggungjawab untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat di sekitar tempatnya berada.

Total Quality Management "TQM"


PENDAHULUAN
Dalam persaingan global, agar perusahaan atau organisasi dapat berkembang dan untuk bertahan hidup, perusahaan harus mampu menghasilkan produk barang dan jasa dengan mutu yang lebih baik, harga yang bersaing dan pelayanan yang lebih baik pula dibanding dengan pesaing-pesaingnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan perbaikan mutu dalam semua aspek yang berkaitan dengan produk tersebut, yaitu material, tenaga kerja, promosi yang efektif dan layanan yang memuaskan pelanggan, sehingga mampu menarik konsumen yang pada akhirnya dapat meningkatkan jumlah konsumen dan menjadi pelanggan yang setia. Oleh karena itu diperlukan adanya pengendalian mutu secara menyeluruh (Total Quality Manajement). Total Quality Manajement (TQM) adalah filosofi manajemen yang menekankan kebutuhan untuk mengetahui kebutuhan konsumen, pentingnya melakukan tindakan yang benar sejak awal, dan pentingnya untuk mengakui bahwa perbaikan kualitas akan dapat sungguh-sungguh tercapai hanya jika merupakan tujuan dari seluruh pekerja perusahaan dan menjadi bagian dari struktur dan budaya dari keseluruhan organisasi.
Terdapat hubungan yang erat antara kualitas produk (barang/jasa), kepuasan pelanggan dan profit perusahaan, semakin tinggi kualitas suatu produk, makin tinggi pula kepuasan pelanggan dan dengan waktu yang bersamaan akan mendukung harga yang tinggi dengan biaya yang rendah. Oleh karena itu sistem perbaikan kualitas bertujuan untuk menaikkan laba perusahaan.
PEMBAHASAN
Total Quality Management (TQM), adalah suatu konsep manajemen yang telah dikembangkan sejak lima puluh tahun lalu yang diambil dari berbagai praktek manajemen, usaha peningkatan dan pengembangan produktivitas. Di masa lampau, literatur manajemen berfokus pada fungsi-fungsi kontrol kelembagaan, termasuk perencanaan, pengorganisasian, perekrutan staf, pemberian arahan, penugasan, strukturisasi dan penyusunan anggaran. Faktor-faktor yang menyebabkan lahirnya perubahan paradigma adalah semakin meningkatnya persaingan, ketidakpuasan pelanggan terhadap mutu pelayanan dan produk, pemotongan anggaran serta krisis ekonomi. Konsep TQM berasal dari model perusahaan dan industry, sama seperi konsep manajemen yang lahir sebelumnya.
Tabel  Perubahan Paradigma Konsep Manajemen
Dari
Jika tidak rusak, jangan diperbaiki
Mutu tidak penting
Pembangunan
Struktur organisasi yang kaku
Birokrasi organisasi berlapis-lapis
Persaingan
Kinerja individu
Semua orang terspesialisasi dan dikendalikan
Pendidikan untuk manajemen
Menjadi
Pengembangan berkesinambungan
Pengawasan terhadap mutu
Inovasi
Struktur organisasi fleksibel
Lapisan organisasi hanya sedikit
Kerjasama
Kinerja tim
Semua orang menambah nilai, fleksibel dan terberdayakan
Pendidikan dan pelatihan untuk semua orang
Manfaat TQM
Salah satu cara terbaik dalam persaingan global adalah dengan menghasilkan suatu produk barang atau jasa dengan kualitas terbaik. Kualitas terbaik akan diperoleh dengan melakukan upaya perbaikan secara terus-menerus terhadap kemampuan manusia, proses, dan lingkungan. Penerapan TQM adalah hal yang sangat tepat agar dapat memperbaiki unsur-unsur tersebut secara berkesinambungan. Penerapan TQM dapat memberikan beberapa manfaat utama, sebagai berikut.
Dengan perbaikan kualitas berkesinambungan, perusahaan akan dapat memperbaiki posisi persaingan. Dengan posisi yang lebih baik akan meningkatkan pangsa pasar dan menjamin harga yang lebih tinggi. Hal ini akan memberikan penghasilan lebih tinggi dan secara otomatis laba yang diperoleh akan lebih meningkat. Upaya perbaikan kualitas akan menghasilkan peningkatan output yang bebas dari kerusakan atau mengurangi produk yang cacat. Berkurangnya produk yang cacat berarti berkurang pula biaya operasi yang dikeluarkan perusahaan sehingga akan diperoleh laba yang semakin besar.
Manfaat TQM dalam jangka panjang, manfaat utama penerapan TQM pada sektor publik adalah perbaikan pelayanan, pengurangan biaya dan kepuasan pelanggan. Perbaikan progresif dalam sistem manajemen dan kualitas pelayanan menghasilkan peningkatan kepuasan pelanggan.
Komponen TQM memiliki sepuluh unsur utama :
1.      Fokus Pada Pelanggan
Dalam TQM, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal merupakan driver. Pelanggan eksternal menentukan kualitas produk atau jasa yang disampaikan kepada mereka, sedangkan pelanggan internal berperan besar dalam menentukan kualitas manusia, proses, lingkungan, yang berhubungan dengan produk atau jasa.
2.      Obsesi Terhadap Kualitas
Dalam organisasi yang menerapkan TQM, penentu akhir kualitas pelanggan internal dan eksternal. Dengan kualitas yang ditetapkan tersebut, organisasi harus terobsesi untuk memenuhi atau melebihi apayang ditentukan tersebut. Hal ini berarti bahwa semua karyawan pada setiap level berusaha melaksanakan setiap aspek pekerjaannya berdasarkan perspektif “ Bagaimana kita dapat melakukannya dengan lebih baik?” bila suatu organisasi terobsesi dengan kualitas, maka berlaku prinsip ‘good enough is never good enough’
3.      Pendekatan ilmiah
Pendekatan ilmiah sangat diperlukan dalam penerapan TQM, terutama untuk mendesain pekerjaan dan dalam prosespengambilan keputusandan pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang didesain tersebut. Dengan demikian data diperlukan dan dipergunakan dalam menyusun patok duga (benchmark),memantau prestasi, dan melaksanakan perbaikan.
4.      Komimen Jangka Panjang
TQM merupakan suatu paradigma baru dalam melaksanakan bisnis, untuk itudibutuhkan budaya perusahaahn yang baru pula. Oleh karena itu komitmen jangka panjang sangat penting guna mengadakan perubahan budaya agar TQM dapat berjalan dengan sukses.
5.      Kerjasama Tim ( Teamwork )
Dalam organisasi yang dikelola secara tradisional, seringkali diciptakan persaingan antar departemen yang ada dalam organisasi tersebut agar daya saingnya terdongkrak. Akan tetapi persaingan internal tersebut cenderung hanya menggunakan dan menghabiskan energi yang seharusnya dipusatkan pada upaya perbaikan kualitas, yang pada gilirannya untuk meningkatkan daya saing eksternal.
Sementara itu dalam organisasi yang menerapkan TQM, kerjasama tim, kemitraan dan hubungan dijalin dan dibina, baik antar karyawan perusahaan maupun dengan pemasok, lembaga- lembaga pemerintah, dan masyarakat sekitarnya.
6.      Perbaikan Sistem Secara Berkesinambungan
Setiap produk atau jasa dihasilkan dengan memanfaatkan proses- proses tertentu di dalam suatu sistem/ lingkungan. Oleh karena itu sistem yang ada perlu diperbaiki secara terus- menerus agar kualitas yang dihasilkannya dapat meningkat.

7.      Pendidikan dan Pelatihan
Dewasa ini masih terdapat perusahaan yang menutup mata terhadap pentingnya pendidikan dan pelatihan. Mereka beranggapan bahwa perusahaan bukanlah sekolah, yang diperlukan adalah tenaga terampil siap pakai. Jadi, perusahaan- perusahaan seperti itu hanya akan memberikan pelatihan sekedarnya kepada para karyawannya. Kondisi seperti itu menyebabkan perusahaan yang  bersangkutan tidak berkembang dan sulit bersaing dengan perusahaan lainnya, apalagi dalam era persaingan global.
Sedangkan dalam organisasi yang menerapkan TQM, pendidikan dan pelatihan merupakan faktor yang fundamental. Setiap orang diharapkan dan didorong untuk terus belajar. Dalam hal ini berlaku prinsip bahwa belajar merupakan proses yang tidak ada akhirnya dan tidak mengenal batas usia. Dengan belajar, setiap orang dalam perusahaan dapat meningkatkan keterampilan teknis dan keahlian profesionalnya.
8.      Kebebasan yang Terkendali
Dalam TQM keterlibatan dan pemberdayaan karyawan dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah merupakan unsur yang sangat penting. Hal ini dikarenakan unsur tersebut dapat meningkatkan ‘rasa memiliki’ dan tanggung jawab karyawan terhadap keputusanyang telah dibuat. Selain itu unsur ini juga dapat memperkaya wawasan dan pandangan dalam suatu keputusan yang diambil, karena pihak yang terlibat lebih banyak
Meskipun demikian, kebebasan yang timbul karena keterlibatan dan pemberdayaan tersebut merupakan hasil dari pengenddalian yang terencana dan terlaksana dengan baik. Pengendalian itu sendiri dilakukan terhadap metode- metode pelaksanaan setiap proses tertentu. Dalam hal ini karyawan yang melakukan standardisasi proses dan mereka pula yang berusaha mencari cara untuk meyakinkan setiap orang agar bersedia mengikuti prosedur standar tersebut.


9.      Kesatuan Tujuan
Supaya TQM dapat diterapkan dengan baik maka perusahaan harus memiliki kesatuan tujuan. Dengan demikian setiap usaha dapat diarahkan pada tujuan yang sama. Akan tetapi kesatuan tujuan ini tidak berarti harus selalu ada persetujuan/ kesepakatan antara pihak manajemen dan karyawan mengenai  upah dan kondisi kerja.
10.  Adanya Keterlibatan dan Pemberdayaan Karyawan
Keterlibatan dan pemberdayaan karyawan merupakan hal yang penting dalam penerapan TQM. Usaha untuk melibatkan karyawan membawa 2 manfaat utama. Pertama, hal ini akan meningkatkan kemungkinan dihasilkannya keputusan yang baik, rencana yang lebih baik, atau perbaikan yang lebih efektif karena juga mencakuppandangan dan pemikiran dari pihak- pihak yang langsung berhubungan dengan situasi kerja. Kedua, keterlibatan karyawan juga meningkatkan ‘rasa memiliki’ dan tanggung jawab atas keputusan dengan melibatkan orang- orang  yang harus melaksanakannya.
Pemberdayaan bukan sekadar berarti melibatkan karyawan tetapi juga melibatkan mereka  dengan memberikan pengaruh yang sungguh- sungguh berarti. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah denganmenyusun pekerjaan yang memungkinkan para karyawan untuk mengambil keputusan mengenai  perbaikan proses pekerjaannya dalam parameter yang ditetapkan dengan jelas.








Dalam TQM dikenal juga istilah 8 langkah perbaikan dan 7 alat bantu yang digunakan dalam melaksanakan sebuah improvment (QCC)
Secara umum 8 langkah yang dilakukan dalam melaksanakan QCC adalah :
ü  Menemukan Persoalan / Tema
ü  Menetapkan Target
ü  Melakukan Analisa Kondisi yang Ada
ü  Melakukan Analisa Sebab Akibat
ü  Merencanakan Penanggulangan
ü  Melaksanakan Penanggulangan
ü  Memeriksa (Evaluasi) Hasil Penanggulangan
ü  Standarisasi dan Rencana Berikut
Sedangkan 7 alat Bantu dalam QCC adalah :
ü  Check sheet
ü  Stratifikasi
ü  Diagram Pareto
ü  Diagram Sebab Akibat  (FISH BONE)
ü  Grafik dan Bagan Pengendalian
ü  Digram Pencar ( Scatter Diagram )
ü  Histogram
Lebih jauh tentang 7 alat Bantu QCC.
1.      Check Sheet
Check Sheet biasanya berbentuk formulir kertas dengan item-item yang diperlukan sudah dicantumkan dan disusun sedemikian rupa. Digunakan untuk mengumpulkan data hasil pemeriksaan (pengecekan), karena itu ada pula yang menyebutnya dengan Lembar Pengumpul Data.
Tujuan Penggunaan Check Sheet
ü  Check Sheet digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai aspek dan kondisi tertentu yang diperlukan
ü  Check Sheet biasanya dipakai untuk memudahkan proses pengumpulan data, dan memudahkan untuk menganalisa data
2.      Stratifikasi
Yaitu menguraikan dan mengelompokkan data menjadi ke kelompok yang lebih homogen (tunggal). Tujuannya adalah untuk menhindari salah interpretasi dalam membaca suatu data.
3.      Diagram Pareto
Yaitu suatu alat untuk melihat permasalahan yang paling tinggi prioritasnya. Divisualisasikan dalam sebuah diagram yang disusun mulai dari data terbesar/terbanyak.
Kegunaan dari Diagram Pareto :
ü  Menunjukkan dengan jelas dan mudah jenis data yang terbesar
ü  Menunjukkan perbandingan masing-masing jenis terhadap keseluruhan
4.      Diagram Sebab Akibat
Merupakan diagram yang menggambarkan hubungan antara karakteristik mutu dengan faktor penyebabnya.
ü  Dapat disebut juga Fishbone karena strukturnya yang mirip struktur tulang ikan.
ü  Dikembangkan pertama kali oleh Prof. Kaoru Ishikawa dari Universitas Tokyo pada tahun 1950.
5.      Histogram
Histogram adalah satu jenis grafik balok khusus yang menggambarkan penyebaran data sebagai hasil satu macam pengukuran dari suatu kejadian atau proses, apakah data tersebut keluar dari batas pengendalian atau tidak. Dalam keadaan normal, tinggi balok-balok tersebut menampilkan bentuk lonceng.
Histogram sangat membantu sebagai tindakan preventif terhadap masalah yang ada dengan melakukan pencatatan data secara kontinyu, sehingga penyimpangan yang terjadi dapat langsung diidentifikasi secara dini sebelum masalah menjadi berlarut-larut.
6.      Control Chart
Bagan pengendalian bentuk ini merupakan bagan yang paling umum untuk data yang diukur.
Bagan pengendalian x – R merupakan bagan pengendalian yang sekaligus menyatakan harga rata-rata (x) dan range ( R ).
Bagan x menunjukkan adanya perubahan pada harga rata-rata, sedang R menunjukkan adanya perubahan pada dispersi.

7.      Scatter Diagram
Scatter Diagram atau Diagram Pencar dipakai untuk melihat hubungan / korelasi dua variabel yang berkaitan. Diagram ini dugunakan untuk melihat seberapa besar hubungan antara dua variable yang ditunjukkan pada Sumbu X dan Y.
Hambatan Penerapan TQM di Indonesia
1.      Kurangnya komitmen dari manajemen puncak. Hal ini ditunjukan dengan dukungan manajemen puncak hanya berpengaruh signifikan terhadap manajemen Arus Proses. Hal ini menunjukan manajemen belum menganggap proses produksi merupakan proses yang berhubungan dengan proses-proses yang lain, sehingga hanya memusatkan dukungan ke manajemen proses produksi saja
2.      Kurangnya pengetahuan tentang konsep TQM. Hal ini ditunjukkan dengan sikap kerja yang hanya berpengaruh terhadap proses desain produk. Kurangnya pengetahuan tentang konsep TQM akan mempersulit pekerja untuk menerima dan menerapkan konsep tersebut (Santosa, 1988)
3.      Budaya organisasi kurang mendukung penerapan TQM. Hal ini ditunjukkan oleh organisasi belum. memandang perlunya untuk menjalin hubungan jangka panjang baik dengan pelanggan maupun dengan
4.      pemasok (Bounds et al, 1994). Ini menunjukkan organisasi di Indonesia belum sepenuhnya berfokus pada pelanggan dan menjalin hubungan dengan pemasok
5.      Ketidaksempurnaan penerapan praktik TQM. Ini bisa disebabkan oleh adanya kekhawatiran pekerja mengenai adanya kemungkinan down-sizing. Jika penerapan praktik TQM ini dapat meningkatkan efisiensi maka akan banyak tenaga kerja, terutama yang tidak memiliki kompetensi yang tinggi mungkin tidak diperlukan lagi oleh organisasi (Kolesar, 1995)
6.      Pekerja takut menunjukkan kesalahan/menyebunyikan kesalahan yang terjadi. Ini ditunjukkan oleh sikap kerja dari karyawan yang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Statistical Control/feedback (Kolesar, 1995)
7.      Peran pemerintah yang kurang mendukung penerapan manajemen kualitas total. Hal ini terbukti dari adanya begitu banyak politik KKN di Indonesia. Selain itu, Herudi Kartowisastro, Kepala Badan Standarisasi Nasional dalam wawancara dengan kompas tanggai 14 Januari 2000 berpendapat bahwa pemerintah Indonesia belum menetapkan standar mutu yang wajib bagi barang-barang yang beredar di pasaran (lokal maupun impor). Hal ini mengakibatkan banyak barang industri yang tidak sesuai dengan standar nasional

PENUTUP
Dari pembahasan diatas mengenai TQM maka penulis dapat menarik kesimpulan dengan menerapkan prinsip mutu dari TQM yaitu fokus pada pelanggan, perbaikan proses dan keterlibatan total dari seluruh karyawan maka akan dapat meningkatkan kualitas dari output yaitu produk atau jasa yang dihasilkan yang dapat memberikan kepuasan pada pelanggan/konsumen sehingga dengan sendirinya konsumen akan mau untuk kembali membeli produk yang ditawarkan dan akan membentuk loyalitas pelanggan.
Terdapat hubungan yang erat antara kualitas produk (barang/jasa), kepuasan pelanggan dan profit perusahaan, semakin tinggi kualitas suatu produk, makin tinggi pula kepuasan pelanggan dan dengan waktu yang bersamaan akan mendukung harga yang tinggi dengan biaya yang rendah. Oleh karena itu sistem perbaikan kualitas bertujuan untuk menaikkan laba perusahaan